Sponsors Link

4 Jenis-jenis Tuli yang Penting Untuk Diketahui

Sponsors Link

Normalnya telinga manusia memiliki cara kerja yang terlihat mudah (dihantarkan secara bertahap mulai dari telinga bagian luar menuju ke bagian tengah, lalu bagian dalam hingga mencapai sistem saraf pusat), namun sebenarnya sangat kompleks karena melibatkan banyak organ, tulang, saraf, otot, dan cairan di dalam telinga agar proses mendengar dapat terjadi.

ads

Karena banyaknya organ-organ tersebut yang memiliki bentuk kecil dan rapuh, dengan sistem kerja yang cukup kompleks, maka telinga dapat mudah sekali terkena gangguan; yang dimana terjadi secara perlahan dan dalam waktu yang lama, sehingga tanpa sadar kita sudah terkena yang namanya tuli.

Sebelum membahas lebih lanjut, silahkan baca artikel kami lainnya terkait gangguan pendengaran seperti cara mengatasi telinga sakit saat memakai headset, kemudian cara menyembuhkan gendang telinga yang pecah, lalu ada juga cara memperbaiki pendengaran yang kurang baik, kemudian 9 penyebab gendang telinga sakit, lalu cara mengatasi hewan masuk telinga, dan lain sebagainya.

Berikut adalah jenis-jenis tuli yang wajib Anda ketahui, karena sedikit sekali jumlah pengecualian manusia yang tidak mengalaminya:

  1. Tuli Konduktif (Conductive Hearing Loss)

Tuli konduktif merupakan tuli yang memiliki tingkat morbiditas yang tinggi dan cukup umum terjadi sehingga penyembuhan dan pengobatan dari kondisi tuli ini hampir dapat diatasi 100% penyembuhannya.

Ada beberapa faktor yang menjadi penyebab terjadinya tuli konduktif dimana faktor-tersebut merupakan akibat dari suatu kondisi penyakit atau kelainan organ yang terjadi pada telinga bagian luar yaitu di sepanjang saluran (ear canal) hingga sampai ke telinga bagian tengah.

Mekanisme gangguan pendengaran dari tuli konduktif dimulai dari ketika (daun) telinga menangkap gelombang suara dari luar dan masuk ke dalam saluran telinga (bagian luar), menuju ke telinga bagian tengah dan berakhir pada transfer gelombang suara dari tulang sanggurdi ke tingkap oval -yang merupakan organ telinga bagian dalam.

Pada sepanjang saluran telinga; mulai dari bagian luar sampai ke bagian tengah, terdapat beberapa organ yang cukup sensitif terhadap “serangan” dari luar maupun dari dalam tubuh yang dapat menyebabkan berbagai hal yang dapat menjadi penyebab tuli konduktif.

Hal penyebab tersebut seperti infeksi akibat bakteri dan virus (otitis media), pertumbungan tulang yang tidak normal (otosclerosis), kerusakan pada gendang telinga akibat paparan suara keras (perforasi membran timpani), penumpukan cairan pada rongga telinga (meniere), pertumbuhan jaringan abnormal (tumor), dan lain sebagainya hingga hanya sekedar menumpuknya kotoran telinga berupa akumulasi penumpukan debu dan sel kulit mati.

Gejala paling dominan untuk mengetahui apakah seseorang terkena tuli konduktif adalah kesulitan mendengar suara yang memiliki pitch rendah, atau apabila suara yang dihasilkan oleh orang lain atau suatu objek sangat pelan, hingga si penderita hanya akan mendengar suara yang teredam dan seperti berasal dari jauh.

Pengobatan yang dilakukan untuk mengatasi tuli konduktif pun terbilang cukup mudah; dimana untuk banyak kasus solusinya hanya mengatasi sumber permasalahan penyebab tuli itu sendiri, walaupun untuk tingkat keparahan yang lebih berat karena penyakit genetik, maka diperlukan prosedur pembedahan.


2. Tuli Sensorineural (Sensorineural Hearing Loss – SNHL)

Jenis-jenis tuli yang kedua ini (sensorineural) merupakan tuli yang terjadi akibat adanya gangguan pada telinga bagian dalam yang berupa organ sensori, struktur tulang, dan juga saraf kranial, dimana ternyata morbiditasnya pun cukup tinggi dan umumnya bersifat permanen (tidak dapat sembuh 100%).

Sesuai dengan namanya, tuli sensorineural lebih sering terjadi akibat sel rambut pada organ sensori yaitu koklea atau rumah siput mengalami kerusakan atau kurangnya jumlah sel rambut yang disebabkan oleh faktor genetik.

Terdapat 2 macam sel rambut; dalam dan luar yang masing-masing memiliki jumlah sekitar 3,500 sel rambut dalam, dan 12,000 sel rambut luar, dimana fungsi dari sel rambut ini sendiri yang merupakan sistem saraf neurons, adalah sebagai relay; yaitu untuk mentransformasi getaran suara pada cairan koklea menjadi suatu sinyal elektrik melalui sistem auditori untuk dihantarkan ke batang otak dan korteks.

Rusaknya sel rambut dapat terjadi akibat faktor mutasi genetik dan lingkungan yang dapat menyebabkan trauma pada sistem pendengaran, atau pun karena paparan suara bising yang terjadi secara terus menerus.

Akibat yang terjadi pada gangguan tuli sensorineural adalah ketidakmampuan telinga untuk menangkap suara dengan pitchtinggi, membedakan jangkauan dan arah suara, dan kesulitan untuk mengerti apa yang diucapakan oleh orang lain.

Pada tuli sensorineural penurunan kerja telinga untuk mendengar akan terjadi secara gradual hingga dapat hilang total, dan belum ada pengobatan yang dapat mengembalikan fungsi dan cara kerjanya, dan pengobatan yang ada hanya dapat membantu meringankan gejala yang muncul seperti penggunaan Alat Banti Dengar dan implan koklea.

3. Tuli Campuran (Mixed Hearing Loss)

Sesuai dengan namanya, tuli campuran secara gamblang dapat diartikan sebagai penggabungan dua kondisi di atas, yaitu tuli konduktif dan tuli sensorineural, yang dapat terjadi dalam waktu yang bersamaan.

Merupakan suatu kejadian yang luar biasa untuk seseorang terkena tuli campuran dalam waktu yang sama, hingga hal tersebut sangat jarang terjadi; namun yang biasanya terjadi adalah jika seseorag menderita satu tuli, dan terjadi suatu komplikasi atau penyebab dasarnya merambat hingga ke bagian telinga lainnya, maka saat itula tuli campuran terjadi.

4. Tuli Saraf (Nerve Deafness or Noise-Induced Hearing Loss – NIHL)

Pada dasarnya tuli saraf hampir mirip dengan tuli sensorineural sehingga banyak studi mungkin tidak akan menyebutkan tuli saraf sebagai bagian utama tuli, melainkan hanya sebagai sub-bagian dari tuli sensorineural.

Sebenarnya tuli saraf menyerang sistem saraf pusat seperti saraf auditori di dalam otak, yang dimana sebenarnya tidak dapat dikatakan sebagai bagian dari telinga, namun merupakan bagian dari sistem pendengaran itu sendiri.

Penyebab kerusakannya sendiri pun akibat dari rusaknya organ telinga yang menyebabkan tuli, sehingga efeknya dapat merambat ke sistem saraf pusat.

Itulah 4 jenis-jenis tuli secara garis besar yang perlu Anda ketahui, dimana selain keempat jenis di atas, terdapat beberapa macam tuli lainnya seperti Nonsyndromic Deafness, Unilateral Hearing Loss, Prelingual Deafness, dan lain sebagainya, dimana masing-masing jenis tuli yang tidak dijelaskan di atas merupakan sub-bagian dari jenis-jenis tuli tersebut di atas.

Baca juga artikel terkait THT lainnya seperti cara mencegah faringitis, kemudian apa saja yang termasuk cara mudah mencegah polip di hidung, dan bagaimana cara mencegah radang tenggorokan serta banyak artikel lainnya yang dapat anda baca supaya dapat mengatasi penyakit THT dengan mudah.

Dengan memahami penjelasan mengenai jenis-jenis tuli, Anda diharapkan untuk lebih waspada, peduli, dan sadar jika telinga Anda bermasalah, sehingga perlu penanganan ahli THT, seperti dokter dan audilogist yang dapat membantu mengatasi, bahkan menyembuhkan kondisi gangguan pendengaran Anda secepatnya jika diketahui sejak dini.

, , , , ,
Oleh :
Kategori : Tuli