Sponsors Link

Otosclerosis : Gejala, Penyebab, Pengobatan dan Pencegahannya

Sponsors Link

Apakah Anda termasuk orang yang suka mengalami tuli sementara jika berada di ketinggian tertentu; seperti pada saat berada di puncak gunung atau pada saat naik pesawat (saat pesawat mulai lepas landas, terbang menanjak sampai ke ketinggian tertentu) ?

ads

Jika iya, Anda tidak perlu khawatir, karena tuli sementara itu merupakan hal yang cukup normal terjadi, namun tentunya tidak semua orang mengalaminya; tergantung dari sensitivitas dan struktur telinga dari masing-masing orang.

Struktur dan anatomi setiap orang memang normalnya tidak ada perbedaan pada fungsi, sistem kerja, dan bagian-bagian telinga (luar, tengah, dalam) itu sendiri; walaupun permasalahan yang terjadi pada telinga dapat berbeda-beda dan membutuhkan pemeriksaan lebih lanjut lagi dengan dokter spesialis THT.

Pada kasus di atas dimana terjadinya tuli sementara ketika berada pada ketinggian tertentu, disebabkan oleh perbedaan tekanan udara antara di luar dan di dalam telinga; yaitu udara yang berada pada telinga tengah.

Telinga bagian tengah (middle ear) memiliki struktur berongga yang secara anatomi terdiri dari 3 tulang auditory ossicles (tulang kecil) yaitu tulang martil (Malleus) yang terhubung dengan tulang landasan (incus), yang terkoneksi dengan tulang sanggurdi (stape), gendang telinga (membran timpani), dan 1 saluran penghubung antara telinga (tengah) dan tenggorokkan yang disebut saluran eustachius.

Fungsi dan sistem kerja telinga bagian tengah adalah untuk menyampaikan gelombang suara dari luar tubuh yang ditangkap dan diolah sedemikian rupa sehingga suara tersebut akan memiliki suatu makna yang dapat dimengerti, dimana mekanisme kerjanya adalah sebagai berikut:

  1. Suara dari luar akan ditangkap sebagai suatu gelombang oleh daun telinga.
  2. Kemudia gelombang suara tersebut akan masuk melewati saluran telinga (ear canal).
  3. Gelombang suara yang melewati saluran telinga akan berujung pada gendang telinga yang kemudian mentransmisi getaran suara tersebut ke tulang auditory ossicles.
  4. Secara bertahap, gelombang suara suara akan ditransmisi menjadi suatu getaran yang akan melewati tulang martil, tulang landasan, dan terakhir ke tulang sanggurdi.
  5. Dimana getaran suara yang dihasilkan tulang sanggurdi secara literal akan ditangkap dan masuk ke telinga dalam (inner ear) melalui tingkap oval (oval window) yang merupakan “pintu” telinga dalam.

Walaupun sekilas bagian telinga dalam hanya terlihat sebagai suatu penghubung, namun fungsi sebenarnya adalah lebih dari itu; dimana gelombang suara dari luar sebenarnya sangat kuat terutama suara bising, namun 3 tulang auditory ossicles memiliki fungsi lain selain menghantarkan getaran, yaitu juga sebagai kompresor getaran suara dan pengatur resolusi dari frekuensi getaran suara sebelum masuk ke dalam telinga bagian dalam.

Salah satu permasalahan yang menjadi momok bagi telinga bagian tengah adalah merupakan suatu kondisi yang disebut dengan ostosclerosis; yaitu kondisi yang “menyerang” salah satu tulang auditory ossicles; yaitu tulang sanggurdi (stape), yang dimana memiliki pertumbuhan tidak normal.

Tulang sanggurdi sendiri dalam bahasa Inggris disebut stape atau stirrup yang jika diartikan secara harfiah ke dalam bahasa Indonesia memiliki makna pijakan kaki (yang tergantung pada pelana), yang dimana nama tersebut digunakan karena bentuk dari tulang sanggurdi itu sendiri.

Jika membayangkan bentuk sanggurdi yang seperti huruf ‘n’ (kecil), dan dibawahnya (bagian terbuka) ditutup dengan digaris lurus, maka abnormalitas tulang sanggurdi akan terlihat seperti tulang tumbuh disekitar bentuknya; yang dimana tulang terlihat berbonggol-bonggol.


Dikarenakan tulang sanggurdi adalah bagian terakhir dari tulang auditory ossicles dan merupakan pengantar suara ke tingkap oval, maka anomali tulang yang terjadi dapat menyebabkan gangguan pendengaran yang juga disebut tuli.

Kami juga telah membahas mengenai beberapa penyakit tuli lainnya yang bisa anda baca seperti tuli saraf,  lalu mengenai apa yang dimaksud dengan tuli campuran, dan kami juga telah memberikan beberapa tips dan panduan seperti cara mencegah tuli konduktif, dan juga cara mencegah tuli saraf, serta bagaimana cara merawat tuli campuran untuk anda pelajari.

Gejala Otosclerosis

Beberapa gejala yang bisa digolongkan ke dalam penyakit Otosclerosis antara lain adalah sebagai berikut:

  • Penurunan Sistem Pendengaran

Penderita otosclerosis biasanya mengalami gangguan pendengaran secara bertahap; yang dimulai dari telinga bagian tengah dimana tulang sanggurdi berada, dan kemudian dapat menjalar secara progresif ke telinga bagian dalam, sehingga dapat mengakibatkan tuli.

  • Tinnitus

Akibat otosclerosis yang “memblok” telinga bagian tengah, maka salah satu gejala yang mungkin muncul adalah terdapatnya kondisi tinnitus dimana kita dapat mendengar suara yang mungkin berasal dari dalam saraf auditori; karena biasanya yang terdengar adalah bunyi dengung, denging, siulan, desis atau suara lainnya yang bukan berasal dari luar telinga, dengan frekuensi berkala ataupun terus menerus, tergantung dari tingkat keparahan otosclerosis itu sendiri.

  • Vertigo

Penelitian menyebutkan bahwa penderita otosclerosis sering mengalami vertigo, dimana hubungan antara vertigo dengan otosclerosis sendiri masih belum diketahui dengan pasti.

  • Keseimbangan Tubuh Terganggu

Saluran eustachius pada telinga tengah memiliki fungsi sebagai pengatur tekanan udara di dalam dan luar telinga, dimana jika otosclerosis terjadi dan menghambat kerja saluran eustachius maka kemungkinan dapat menyebabkan keseimbangan tubuh ikut terganggu.

Penyebab Otosclerosis

Sampai saat ini penelitian yang dilakukan hanya dapat menyimpulkan bahwa kelainan pertumbuhan pada tulang sanggurdi disebabkan oleh mutasi genetik, yang diturunkan pada saat kehamilan.

Selain mutasi genetik, beberapa ahli juga memiliki pendapat mengenai penyebab lain dari  otosclerosis yang berhubungan dengan penyakit seperti karena campak, gangguan autoimun, dan gangguan sistem endokrin.

Namun tanda-tanda apakah terdapat indikasi jabang bayi mengidap otosclerosis, atau pun ibunya membawa gen otosclerosis yang dapat diturunkan, hingga kini masih belum dapat ditemukan dan dipastikan dengan jelas, sehingga pencegahan dini belum dapat dilakukan sampai saat ini.

Pengobatan Otosclerosis

Untuk metode pengobatan Otosclerosis sendiri, biasanya akan dilakukan salah satu atau beberapa dari metode-metode sebagai berikut:

  • Medikamentosa (Terapi Sodium Fluoride)
  • Pembedahan
  • Implan Koklea
  • Amplifikasi (Penggunaan Alat Bantu Dengar)

Pencegahan Otosclerosis

Seperti yang sudah dijelaskan di atas, karena belum diketahui penyebab otosclerosis yang pasti, maka pencegahan pun sulit untuk dilakukan; namun jika Anda merasa bahwa gejala-gejala yang telah disebutkan di atas dialami oleh Anda, dan ditambah dengan adanya penderita otosclerosis pada keluarga Anda (baik keluarga dekat maupun jauh, yang masih ada hubungan darah), ada baiknya Anda segera menemui dokter spesialis THT untuk melakukan pemeriksaan secara menyeluruh agar dapat ditangani secepatnya.

Silahkan membaca beberapa tips serta panduan yang telah kami berikan terkait penyakit THT lainnya seperti 14 cara mengobati hidung tersumbat, kemudian 6 cara menyembuhkan alergi hidung, lalu apa saja perbedaan sinusitis dan rhinitis, dan juga 10 dampak radang tenggorokan yang tidak bisa dianggap remeh.

Itulah sekilas penjelasan mengenai otosclerosis (gejala, penyebab, pengobatan, pencegahan) yang perlu anda waspadai dan perhatikan; dimana walaupun otosclerosis tidak dapat dihindari, namun jika mengalami gejala-gejala tersebut di atas, Anda dapat segera melakukan pencegahan dini dengan melakukan konsulatasi dan pemeriksaan telinga ke dokter spesialis THT yang terpercaya.

, , , , ,
Oleh :
Kategori : Tuli